الله أكبر 9×
الله أكبر كبيراً والحمد لله كثيراً وسبحان الله بكرةً وأصيلاً
لا إله إلا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْنَا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِمَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah…
Idul Adha adalah hari raya kurban, hari raya haji, dan hari raya mengenang keluarga agung: Ibrahim, Ismail, dan Hajar. Namun, seringkali kita terpaku pada sosok Ibrahim yang taat dan Ismail yang sabar, sementara kita melupakan satu nama yang menjadi poros cerita ibadah sa'i: Hajar. Perempuan yang tidak pernah tercatat sebagai nabi, tapi namanya dikenang setiap hari oleh jutaan jamaah haji dan umrah di setiap putaran antara Shafa dan Marwa.
Mari kita renungkan peristiwa yang mengguncang langit itu.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd
Suatu ketika, atas perintah Allah, Ibrahim harus meninggalkan Hajar dan putranya yang masih menyusu di sebuah lembah tandus yang kelak bernama Mekah. Tidak ada air. Tidak ada pepohonan. Tidak ada satu pun manusia.
Ibrahim pun melangkah pergi. Hajar berlari mengejar dari belakang.
"Wahai Ibrahim, ke mana engkau akan pergi? Mengapa engkau meninggalkan aku di lembah ini? Tidak ada teman, tidak ada siapa-siapa di sini!"
Suara Hajar bergetar. Ia terus bertanya, sekali, dua kali, tiga kali. Tapi Ibrahim sama sekali tidak menengok. Ia terus berjalan, meninggalkan bayangannya sendiri di atas pasir yang terbakar.
Akan tetapi, di balik langkah Ibrahim yang tegap itu, tersembunyi perasaan berat yang luar biasa. Hatinya remuk. Dadanya sesak. Beliau meninggalkan istri yang dicintai dan anak yang baru beberapa bulan dalam pelukannya. Bukan karena benci atau bosan. Tapi karena perintah Allah.
Dalam riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, disebutkan bahwa Ibrahim ketika meninggalkan Hajar dan Ismail, beliau berjalan perlahan, hatinya bergolak. Setiap kali hendak menoleh, beliau menahan diri. Beliau takut jika menengok, hatinya akan runtuh dan ia tidak akan sanggup melanjutkan perintah Allah.
Dalam hatinya, Ibrahim bergumam, "Ya Allah, Engkau tahu betapa beratnya langkahku ini. Setiap langkah menjauh adalah luka. Tapi aku melangkah karena-Mu."
Air matanya hampir jatuh. Tapi beliau tahan. Karena inilah jalan cinta kepada Allah: kadang terasa pahit di awal, tapi manis di akhir.
Sampai akhirnya Hajar berhenti. Ia menarik napas. Dan ia bertanya untuk yang terakhir kalinya:
"Apakah ini kemauanmu atau perintah dari Allah?"
Ibrahim masih tidak menoleh. Tapi beliau menjawab dengan suara yang parau menahan getar:
"Ini perintah Allah."
Maka dengan tenang, dengan keyakinan yang tidak goyah, Hajar berkata:
"Kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami."
Allahu Akbar 3×, walillahil hamd
Setelah Ibrahim pergi meninggalkan mereka, beliau tidak serta merta melupakan Hajar dan Ismail. Di tengah langkahnya yang berat, di tengah perih yang menusuk dada, Ibrahim menengadahkan tangannya kepada Allah. Ia berdoa untuk istri dan anak yang baru saja ditinggalkannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabadikan doa mulia itu dalam firman-Nya:
(QS. Ibrahim: 37)
"Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu yang dihormati, ya Tuhan kami, agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur."
Saudaraku, inilah doa seorang ayah yang hatinya remuk tapi imannya teguh. Ibrahim tidak meminta harta untuk mereka. Ia meminta tiga hal: shalat (agar mereka dekat dengan Allah), hati manusia yang cenderung (agar mereka diterima masyarakat), dan buah-buahan (agar mereka berkecukupan dan bersyukur). Doa ini dikabulkan Allah. Maka jadilah Mekah pusat peradaban, dan jamaah haji dari seluruh dunia datang merindukan tempat yang dulu tandus itu.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd
Saudaraku, Hajar tidak hanya meninggalkan kita dengan doa suaminya. Ia meninggalkan kita dengan teladan perjuangan.
Setelah Ibrahim pergi menghilang di balik bukit, tak lama kemudian bayi Ismail menangis kehausan. Air susu Hajar mulai kering karena panas yang menyengat.
Apa yang dilakukan Hajar? Apakah ia duduk diam sambil berkata, "Allah sudah berjanji tidak akan menyia-nyiakan aku, maka aku akan menunggu sampai malaikat turun"?
Tidak, saudaraku. Hajar bergerak.
Ia naik ke bukit Shafa, mencari air. Dari kejauhan tampak seperti ada air di bukit Marwa. Maka ia berlari menuju ke sana. Ternyata tidak ada, hanya fatamorgana. Lalu dari Marwa, ia melihat lagi seolah ada air di Shafa. Ia pun berlari kembali.
Bolak-balik. Bolak-balik. Berkali-kali.
Ia terus berusaha, terus mencari, terus berlari, sampai Allah mengirimkan pertolongan.
Dan pertolongan itu datang bukan dari Shafa atau Marwa, tapi dari bawah kaki Ismail sendiri. Tanah yang tadinya kering itu memancarkan air. Muncullah sumur Zamzam yang tidak pernah kering hingga hari kiamat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
رَحِمَ اللَّهُ أُمَّ إِسْمَاعِيلَ، لَوْ تَرَكَتْ زَمْزَمَ لَكَانَتْ عَيْنًا مَعِينًا
HR. Bukhari
"Semoga Allah merahmati ibu Ismail. Seandainya ia membiarkan air Zamzam mengalir begitu saja, niscaya Zamzam akan menjadi mata air yang mengalir ke permukaan bumi."
Allahu Akbar 3×, walillahil hamd
Ma’asyiral muslimin…
Ada beberapa pelajaran besar dari kisah Hajar dan Ibrahim yang sangat relevan dengan kehidupan kita:
Pertama: Cinta kepada Allah kadang terasa pahit.
Ibrahim meninggalkan keluarganya dengan hati remuk. Tapi beliau melakukannya karena Allah. Kadang kita diuji dengan sesuatu yang menyakitkan — kehilangan, kegagalan, perpisahan. Itu bukan karena Allah tidak sayang. Itu karena Allah sedang meninggikan derajat kita. Maka tahanlah. Seperti Ibrahim yang menahan tangisnya di atas pasir yang membakar.
Allah berfirman:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
(QS. Al-'Ankabut: 2)
"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan: 'Kami telah beriman', sedangkan mereka tidak diuji?"
Kedua: Iman tanpa usaha adalah klaim palsu.
Hajar percaya Allah tidak akan menyia-nyiakannya. Tapi ia tetap berlari. Iman yang benar justru mendorong seseorang untuk berbuat lebih keras, bukan malah bermalas-malasan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ
(HR. Muslim)
"Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masing ada kebaikan. Bersemangatlah pada apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau lemah."
Ketiga: Jangan berhenti sebelum waktunya.
Hajar berlari berkali-kali. Angka tujuh dalam bahasa Arab adalah simbol bahwa usaha harus terus dilakukan sampai batas kemampuan, bukan terbatas pada hitungan enam atau delapan. Jangan pernah berkata, "Saya sudah mencoba, tapi tidak berhasil." Coba lagi. Dan lagi. Dan lagi. Karena pertolongan Allah bisa datang di saat yang tidak kita duga. Allah berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا. إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
(QS. Al-Insyirah: 5-6)
Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd
Ma’asyiral muslimin…
Kisah ini bukan sekadar cerita lama. Ia adalah peta jalan bagi siapa pun yang sedang berada di lembah kekeringan hidup.
Saudaraku, di antara kita mungkin ada yang sedang merasakan apa yang dirasakan Ibrahim: berat. Berat meninggalkan sesuatu yang dicintai demi Allah. Berat melepaskan jabatan karena tidak mau korupsi. Berat menghentikan kebiasaan dosa meskipun teman-teman mengejek. Berat bersabar ketika istri atau suami tidak memahami. Berat terus berusaha ketika hasil tidak kunjung datang.
Dan di antara kita mungkin juga ada yang sedang merasakan apa yang dirasakan Hajar: lelah. Lelah mencari rezeki yang tak kunjung datang. Lelah berobat tapi sakit tak kunjung sembuh. Lelah memperbaiki diri tapi terus jatuh dalam dosa yang sama.
Rasakanlah berat itu. Rasakanlah lelah itu. Tapi jangan berhenti. Seperti Ibrahim yang terus melangkah meskipun hatinya remuk. Seperti Hajar yang terus berlari meskipun lelah. Karena Allah bersama orang-orang yang melangkah demi-Nya.
Ma’asyiral muslimin…
Idul Adha adalah tentang pengorbanan. Tapi tahun ini, mari kita kurbankan keputusasaan kita. Kurbankan rasa "aku tidak mampu lagi". Kurbankan bisikan "tidak ada jalan keluar". Gantilah dengan keyakinan Hajar: Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang bertawakal dan terus berusaha.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَسْعَوْنَ فَيَجِدُونَ، وَيَصْبِرُونَ فَيَفُوزُونَ، وَيَتَوَكَّلُونَ فَيُكْفَوْنَ
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا زَمْزَمَ الْقُلُوبِ — إِيمَانًا لَا يَزُولُ، وَيَقِينًا لَا يَضْعُفُ، وَصَبْرًا لَا يَنْفَدُ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا